Kamis, 19 Mei 2011

Keteledoran atau Pamfler Politik Sih..?

Banyak polemik dan kontroversi pada setiap catatan sejarah. Hal ini yang kadang membuat kita risau, dan mulai berpikir apa yang sesungguhnya terjadi. Sejarah selalu menyisakan tanda tanya, atau menimbulkan banyak persepsi ganjil. Oleh karena itu, jika kebenaran sejarah masih bisa diungkap. Maka, sudah selayaknya semua khalayak mengetahui kronologis sesungguhnya.
Kontroversi sejarah kelahiran pancasila timbul karena banyak catatan sejarah yang menuliskan kejadian berbeda. Menimbulkan kesimpang-siuran sejarah membuat kita sulit memahami bagaimana kejadian sebenarnya.
Saat masih SMA, buku-buku pelajaran menuliskan bahwa Muhammad Yamin berpidato pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945. Bahkan sampai saya kuliah disemester dua pun banyak buku yang masih menuliskan hal yang sama.
Perbedaan pada setiap catatan sejarah yang saya baca membuat saya penasaran apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sedang ditutupi.
Inilah beberapa informasi yang saya temukan diberbagai sumber. Saya tidak mengatakan seluruh informasi ini pasti benar. Silahkan kalian menilai sendiri. Tapi, yang pasti dari informasi ini kita dapat mengambil beberapa kesimpulan untuk diri kita sendiri.
BPUPKI adalah organisasi yang dibentuk Jepang pada tanggal 1 Maret 1945. Organisasi ini dibentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan Indoesia. Sidang pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 sebagai upaya mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan Dr. Radjiman Wediodiningrat, selaku ketua BPUPKI, tentang apa yang menjadi dasar negara Indonesia.
Banyak catatan sejarah yang menjelaskan bahwa pada tanggal 29 Mei 1945, Muhammad Yamin menyampaikan pidatonya yang berisi tentang kensop lahirnya pancasila. Bahkan, ada beberapa buku yang beranggapan bahwa Muhammad Yamin-lah Sang Konseptor Pancasila. Namun, apakah itu kebenarannya? Apa yang melandasi pemikiran tersebut? Benarkah Yamin pantas disebut sebagai Sang Konseptor?
Pada awalnya, ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa Muhammad Yamin menyampaikan pidatonya yang berisi lima azas dasar untuk Negara Indonesia Merdeka, yakni :
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat

Menurut sumber tersebut pula, setelah berpidato Yamin menyampaikan usul tertulis mengenai Rancangan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Karena konsep yang pertaa dirasa terlalu pendek. Di dalam Pembukaan dari Rancangan Undang-Undang Dasar itu tercantum perumusan lima azas dasar Negara yang berbunyi sebagai berikut :
1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia.
3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Beberapa waktu kemudian, dokumen-dokumen BPUPKI yang asli datang dari Belanda dan dibawa ke Indonesia. Setelah itulah ditemukan informasi bahwa sebenarnya Yamin tidak pernah berpidato secara lisan di persidangan BPUPKI tanggal 29 Mei 1945. Lantas, mengapa Yamin dalam bukunya yang berjudul ‘Naskah Persiapan UUD 1945’ jilid 1 pada halaman 721-728 menyebutkan bahwa dirinya menyampaikan pidato secara lisan pada sidang BPUPKI. Padahal, menurut Bung Hatta pun Yamin tidak berpidato pada sidang BPUPKI melainkan menampaikan pendapat pada sidang Panitia Kecil yang hanya beranggotakan 9 orang.
Lalu, mengapa banyak buku yang menyebutkan bahwa Yamin berpidato pada sidang BPUPKI. Hal ini bermula saat seorang peneliti sejarah bernama Nugroho Notosusanto pada tahun 1981 menyebutkan bahwa Muhammad Yamin memang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945 sebelum Soekarno yang berpidato tanggal 1 Juni 1945. Sehingga, Nugroho menganggap bahwa Yamin-lah ‘Penggali’ Pancasila. Padahal, Yamin dalam bukunya berkali-kali menyebutkan bahwa Soekarno-lah ‘Penggali’ Pancasila. Lantas, mengapa Nugroho bersikeras Yamin sebagai tokoh utama lahirnya pancasila. Tidakkah sebagai peneliti dia seharusnya membaca dengan detail buku yang ditulis Yamin. Apakah benar yang terjadi dalam penelitian Nugroho hanya sebuah keteledoran atau pamfler politik sebagai perwujudan dari sikap anti-soekarnoisme?
Di Zaman Orde Baru, jelas sekali beberapa kebijakan yang diberlakukan oleh penguasa saat itu, Soeharto, bertujuan untuk menghilangkan pemikiran rakyat Indonesia tentang betapa hebat Soekarno. Salah satu upayanya adalah menjauhkan nama Soekarno dari pancasila.
Jika Nugroho Notosusanto benar hanya melakukan keteledoran, mengapa tidak ada upaya yang mmperbaiki keteledorannya saat itu. Mengapa justru Nugroho diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Zaman Orde Baru. Apakah pantas seseorang yang ikut andil dalam ‘Pengkhianatan’ sejarah diangkat menjadi seorang Menteri Pendidikan. Apa yang dilakukan Soeharto dan Nugroho jelas adalah sebuah pamfler politik.

Sabtu, 07 Mei 2011

Mengapa ingin MATI, Kawan??

Artikel ini sengaja kutulis khusus untuk seorang sahabat yang pernah bilang padaku bahwa ia ingin mati saat ini. Tak bisa kujelaskan apa alasannya. Rasanya aku kaget sekali mendengar kata-katanya. Tapi, keinginannya itu justru menyadarkanku pada banyak hal.
Orang yang ingin bunuh diri merasa tak ada lagi yang bisa menolongnya. Merasa masalah yang dia hadapi sudah tak bisa lagi diselesaikan. Dia merasa hidup sendirian, mungkin memang ada banyak orang dalam hidupnya. Tapi, entah mengapa dia merasa kesepian hingga merasa tak ada yang bisa membawanya keluar dari masalah atau bahkan hanya untuk mendengarkan apa yang sedang dirasakannya. Aku bersyukur sahabatku itu bicara padaku tentang keinginannya untuk mati. Aku memang tak bisa berbuat banyak. Tapi, setidaknya aku bisa memberinya pengertian dan meyakinkannya bahwa dia tak pernah sendirian.
Sesungguhnya kita memang tak pernah sendirian. Aribowo Suprajitno Adhi pernah berkata begini dalam bukunya Sangguru Menyapa Hati ‘Tuhan tidak menjanjikan hamparan bunga mawar dalam kehidupan ini, tetapi dia ada dalam setiap kesulitan dan penderitaan yang kita alami sehingga kita dapat bertahan dan melewatinya’. Ketika kau merasa sudah tak ada lagi yang sanggup mendengarmu, sesungguhnya masih ada yang selalu setia menunggu kau bicara padanya. Menunggumu mengadu padanya. Masih ada Tuhan, Kawan.
Semua orang punya masalah. Aku. Kau. Mereka. Kita. Semua punya masalahnya masing-masing. Semua hanya bergantung pada cara kau memandang hidup ini. Mengapa harus mati yang menjadi pilihan terakhirmu? Apa kau pikir kau siap? Apa saja kebaikan yang sudah kau lakukan hingga kau merasa bisa melewati siksaan Tuhan?
Setiap detik dari Tuhan adalah anugerah. Kesempatan yang dia berikan agar kita melakukan sesuatu. Jika kau yang mendapat cobaan itu, karena Tuhan pikir hanya kau yang bisa mengatasinya. Tunjukkan kalau yang Dia pikir itu benar. Kau tidak pernah sendirian. Kau tidak sendirian, Kawan.
Pernahkah kalian berpikir, mungkin saja Tuhan memberi kita cobaan agar kita mendekat padanya. Pernah kau berpikir mungkin selama ini kau telah melupakannya hingga Dia merindukanmu. Kau diberi banyak kebahagiaan tapi tetap juga melupakannya. Hingga Tuhan berpikir mungkin seharusnya Dia memberimu cobaan agar kau kembali dekat padanya. Bukan karena Tuhan jahat. Justru, Dia sangat mencintaimu. Itulah mengapa Dia ingin dekat denganmu. Dan kematian bukan jalan yang disiapkan untukmu.
Hidup kita menyusuri jalan setapaknya masing-masing. Jika ada batu kecil yang menyandungmu, itu hal biasa. Jika batunya lebih besar lagi hingga membuatmu terjatuh. Kau boleh mengaduh atau pun menangis. Tapi, kau harus bangkit. Di jalan selanjutnya mungkin ada batu yang tak kalah besar, pindahkan batu itu. Jangan biarkan kau terjatuh, mengaduh, kemudian menangis.
Setiap kehidupan punya rahasianya sendiri. Singkap rahasia hidupmu. Pelajari semua yang dituliskan olehnya. Cintai hidupmu. Seperti Tuhan mencintaimu. Buktikan bahwa kau orang yang tepat untuk bahagia.